<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Puck's Initiative</title>
	<atom:link href="http://jester2oberon.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jester2oberon.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Oct 2009 19:25:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on DAULAT TUANKU! GANYANG INDONESIA! by akuantiindon</title>
		<link>http://jester2oberon.wordpress.com/2009/06/10/daulat-tuanku-ganyang-indonesia/#comment-47</link>
		<dc:creator>akuantiindon</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 19:25:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jester2oberon.wordpress.com/?p=19#comment-47</guid>
		<description>Indon people are very stupid.....even not all the Indon hate Malysia, but when i saw most of them truly hate and being insult Malay people, there&#039;s no way for me 2 be kind to ALL Indonesia!!!!! Who cares!!!!! That pig eater was totally lost their minD!!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Indon people are very stupid&#8230;..even not all the Indon hate Malysia, but when i saw most of them truly hate and being insult Malay people, there&#8217;s no way for me 2 be kind to ALL Indonesia!!!!! Who cares!!!!! That pig eater was totally lost their minD!!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on DAULAT TUANKU! GANYANG INDONESIA! by HindonesiaL</title>
		<link>http://jester2oberon.wordpress.com/2009/06/10/daulat-tuanku-ganyang-indonesia/#comment-46</link>
		<dc:creator>HindonesiaL</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 08:18:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jester2oberon.wordpress.com/?p=19#comment-46</guid>
		<description>dear all indonesian reading this thread :-

actually we dont really understand ur &quot;volcano&quot; language.. anyway y u guys are so stupid?? maybe u suffered a lot of earthquake and make urself becoming dumb n dumber from day to day... 

all ur claims refered to the things happened even before u borne from ur mama stinky pussy... anyway, u guys eat rat, pigs, cat and all living things rite? no wonder u r so dumb...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dear all indonesian reading this thread :-</p>
<p>actually we dont really understand ur &#8220;volcano&#8221; language.. anyway y u guys are so stupid?? maybe u suffered a lot of earthquake and make urself becoming dumb n dumber from day to day&#8230; </p>
<p>all ur claims refered to the things happened even before u borne from ur mama stinky pussy&#8230; anyway, u guys eat rat, pigs, cat and all living things rite? no wonder u r so dumb&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on DAULAT TUANKU! GANYANG INDONESIA! by malaypig</title>
		<link>http://jester2oberon.wordpress.com/2009/06/10/daulat-tuanku-ganyang-indonesia/#comment-45</link>
		<dc:creator>malaypig</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 15:04:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jester2oberon.wordpress.com/?p=19#comment-45</guid>
		<description>jester.. you&#039;re like pig !</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jester.. you&#8217;re like pig !</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on DAULAT TUANKU! GANYANG INDONESIA! by malaypig</title>
		<link>http://jester2oberon.wordpress.com/2009/06/10/daulat-tuanku-ganyang-indonesia/#comment-44</link>
		<dc:creator>malaypig</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 15:02:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jester2oberon.wordpress.com/?p=19#comment-44</guid>
		<description>dasar..
malon bodoh..
penjilat pantat ratu inggris..
penyodom babi..
tuan kau anjink fuck&#039;ry..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dasar..<br />
malon bodoh..<br />
penjilat pantat ratu inggris..<br />
penyodom babi..<br />
tuan kau anjink fuck&#8217;ry..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Sedia Gempur Ataupun Sudah Digempur? by Oh Indon Oh Malaysian</title>
		<link>http://jester2oberon.wordpress.com/2008/03/17/sedia-gempur-ataupun-sudah-digempur/#comment-43</link>
		<dc:creator>Oh Indon Oh Malaysian</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 07:08:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jester2oberon.wordpress.com/?p=17#comment-43</guid>
		<description>Ketika memperingati Hari Buruh 1 Mei 1965, BK berkata:

    SAUDARA-SAUDARA, kita mengatakan bahwa Malaysia adalah proyek neo-kolonialis. Aku berkata, Malaysia adalah suatu proyek neokolonialis, dan aku berkata, Malaysia adalah juga suatu proyek imperialis.

    Neo-kolonialis karena Inggris mengkonsolir, menjajah Malaysia itu, atau lebih tegasnya Malaya, Singapore, Brunei, Serawak, Sabah dengan cara-cara baru, dengan cara neo—neo itu artinya baru—bukan dengan cara terang-terangan seperti dulu Belanda disini mengatakan bahwa Hindia adalah Hindia-Nederland, mengatakan bahwa semua pemerintahan disini, di Indonesia ini, adalah di dalam tangan negeri Belanda.

    Tidak, Inggris mengatakan bahwa Malaya, Singapore, Sabah, Brunei ini, oo, untuk mereka sendiri. Pemerintahannya dalam bentuk baru. Tetapi pada hakikatnya masih Inggris yang memegang tampuk pemerintahannya, oleh karena itu dinamakan neo-kolonialisme baru, bukan kolonialisme biasa.

Hari ini konteksnya jauh berbeda. Indonesia kini juga bukan Indonesia yang disuarakan BK ketika itu.

(Saya minggu lalu menyelesaikan tugas midterm untuk POLS 600, tentang nasionalisme Orde Baru dan nasionalisme Sukarno, juga kritik atas nasionalisme seperti yang disampaikan Ben, dan pemikiran nasionalisme oleh sejarawan Yahudi Hans Kohn. Setelah kurang tidur selama berhari-hari, akhirnya selesai dalam 13 halaman, satu spasi. Sempat ada niat juga mengirimkannya ke Ibu Mira. Tapi nanti-nantilah.)

Tengah terjadi perdebatan di sebuah milis (yang saya malas menimpali, karena satu dan lain hal) mengenai wajah kapitalisme Indonesia di zaman Soeharto (yang menurut saya masih berlangsung hingga kini, bahkan dalam tingkat keparahan yang lebih tinggi).

Satu pihak mengatakan bahwa premis kapitalisme yang dilahirkan oleh individualisme dan liberalisme tidak terpenuhi. Uang dan kekuasaan berada di tangan nyaris hanya satu pihak (Cendana dan cronies). Toh Indonesia bangkrut juga. Di sisi lain, masih kata orang yang sama, bukankah terapi neo-liberalisme yang ditawarkan oleh IMF, World Bank, CGI berusaha untuk memperbaiki keadaan.

Privatisasi, liberalisasi dan seterusnya itu, masih kata dia, mestinya dipandang sebagai antitesa untuk melawan pendekatan ekonomi dan politik Soeharto yang merugikan itu.

Tetapi ada baiknya saya tak berpanjang-panjang mengurai perdebatan ini.

Tahun 2002 lalu, saya sempat mengunjungi Nunukan. Kala itu, ribuan TKI dipulangkan secara paksa dari Malaysia (terutama yang bekerja di perkebunan sawit dan karet di negara bagian Sabah). Mendengar cerita mereka, geramlah hati saya pada banyak pihak yang memeras tenaga mereka, dan pada praktiknya menjual mereka untuk kepentingan sendiri.

Mereka bukan lagi diperkosa. Tetapi di “sum kuning”. Istilah ini ditujukan pada aktifitas memperkosa seseorang (ketika itu kebetulan korbannya wanita) secara beramai-ramai.

Sum Kuning adalah kisah nyata. Ia disebutkan sebagai seorang gadis penjual telur yang jelita dari Godean, Yogyakarta. Pada suatu hari di tahun 1970, Sum Kuning diperkosa beramai-ramai oleh anak seorang pejabat dan teman-temannya. Dia sempat disuap agar tak melaporkan pemerkosaan itu. Ketika ia mengadukan nasib sial yang diterimanya, para pelaku menyerang balik dan menuduh Sum Kuning memberi keterangan palsu. Sum Kuning yang malang itu pun dibawa ke pengadilan. Untunglah, sang hakim tak menjatuhkan hukuman pada Sum Kuning. Tahun 1978 kisah Sum Kuning diangkat ke layar lebar. Disutradarai Slamet Rahardjo Frank Rorimpandey dan dibintangi Yatty Surachman.

Ya, para TKI ini diperkosa beramai-ramai oleh pemerintah Indonesia berikut aparaturnya, pemerintah Malaysia berikut aparaturnya, PJTKI, rekanan PJTKI di Malaysia, pengusaha perkebunan di Malaysia, dan seterusnya. Ini adalah peristiwa sum kuning paling massif yang terjadi di muka bumi. Tidak di tempat gelap, tetapi di pertontonkan di atas panggung, dan kita semua bisa menyaksikannya. Gila.

Jalanan di depan dermaga Nunukan itu dipenuhi oleh TKI yang luntang lantung. Tidak tahu mau kemana. Mau pulang ke kampung halaman tak ada pekerjaan. Mau bertani, harga pupuk sudah melambung tinggi sementara harga jual gabah kering dan basah anjlok. Irigasi tak dibangun.

Kalau kembali ke rimba sawit di Sabah, ya mereka akan kembali dikerjai oleh banyak pihak sana. Pengusaha Malaysia menahan passport mereka, dan gaji mereka. Dan kalau mereka menuntut haknya, pengusaha Malaysia dengan gampang memanggil pasukan Rela dan mengatakan kepada pasukan Rela bahwa mereka adalah pekerja illegal.

Tak cukup makian mengalir dari mulut saya ketika itu untuk memperbaiki keadaan.

Tuhan, kita butuh lebih dari sekadar ganyang Malaysia. Maksud saya, jargon ganyang Malaysia pastilah tak akan cukup untuk menyelamatkan nasib mereka. Kita juga harus ganyang Indonesia!

Saya masih bisa makan di warung kaki lima di mulut dermaga. Warung ini berada agak ke bawah trotoar. Dari tempat saya duduk, yang tampak adalah ribuan pasang kaki orang-orang yang sungguh tak beruntung dalam hidupnya. Kalaulah bisa saya membagi keberuntungan saya selama ini kepada mereka…

Mereka mandi di got, sebagian tidur di rumah-rumah kosong. Ada juga yang nginap di kantor PJTKI yang berjejer di sepanjang Jalan Tien Suharto. Tak sedikit yang membawa anak-anak mereka. Ada yang katanya kehilangan anak ketika sedang terburu-buru meninggalkan Sabah. Ada yang menitipkan anak pada kerabat yang ada di sana.

Saya datang ke tempat penampungan mereka yang baru di bangun yang letaknya beberapa kilometer dari pusat Nunukan. Tak banyak yang mau tinggal di penampungan itu, karena mereka merasa lebih nyaman tinggal di pusat Nunukan yang dekat dengan kantor imigrasi.

See, mereka masih mau kembali ke Sabah.

Saya juga sempat ke Tawau, kota pelabuhan milik Malaysia di seberang sana. Dari Tawau saya pulang bersama 13 wanita muda yang semuanya mengaku terjebak bekerja sebagai pelacur di KK (Kota Kinabalu), ibukota Sabah. Seorang wanita yang saya wawancarai, dan keesokan harinya wawancara itu mengudara di Radio Ramako Jakarta, mengaku mesti melayani 10 laki-laki setiap hari.

Saya ditertawakan kawan di Jakarta, karena ketika bertanya tentang berapa laki-laki yang harus dilayani wanita itu, saya memulainya dengan kata-kata, “Maaf Mbak. Ini pertanyaan tidak sopan…”

Dan ada di antara mereka, yang paling muda dan paling bening dan karenanya paling diplototi orang di kantor polisi Nunukan itu, mengaku dulu mondok di pesantren sebelum direkrut “Sang Mami” jadi “Ayam”.

Begitulah sedikit gambaran keadaannya, mengapa saya sepakat bila kita ganyang Malaysia dan ganyang Indonesia Soeharto yang memusatkan pembangunan hanya di tangan sekelompok orang di Jawa, lalu memiskinkan daerah-daerah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika memperingati Hari Buruh 1 Mei 1965, BK berkata:</p>
<p>    SAUDARA-SAUDARA, kita mengatakan bahwa Malaysia adalah proyek neo-kolonialis. Aku berkata, Malaysia adalah suatu proyek neokolonialis, dan aku berkata, Malaysia adalah juga suatu proyek imperialis.</p>
<p>    Neo-kolonialis karena Inggris mengkonsolir, menjajah Malaysia itu, atau lebih tegasnya Malaya, Singapore, Brunei, Serawak, Sabah dengan cara-cara baru, dengan cara neo—neo itu artinya baru—bukan dengan cara terang-terangan seperti dulu Belanda disini mengatakan bahwa Hindia adalah Hindia-Nederland, mengatakan bahwa semua pemerintahan disini, di Indonesia ini, adalah di dalam tangan negeri Belanda.</p>
<p>    Tidak, Inggris mengatakan bahwa Malaya, Singapore, Sabah, Brunei ini, oo, untuk mereka sendiri. Pemerintahannya dalam bentuk baru. Tetapi pada hakikatnya masih Inggris yang memegang tampuk pemerintahannya, oleh karena itu dinamakan neo-kolonialisme baru, bukan kolonialisme biasa.</p>
<p>Hari ini konteksnya jauh berbeda. Indonesia kini juga bukan Indonesia yang disuarakan BK ketika itu.</p>
<p>(Saya minggu lalu menyelesaikan tugas midterm untuk POLS 600, tentang nasionalisme Orde Baru dan nasionalisme Sukarno, juga kritik atas nasionalisme seperti yang disampaikan Ben, dan pemikiran nasionalisme oleh sejarawan Yahudi Hans Kohn. Setelah kurang tidur selama berhari-hari, akhirnya selesai dalam 13 halaman, satu spasi. Sempat ada niat juga mengirimkannya ke Ibu Mira. Tapi nanti-nantilah.)</p>
<p>Tengah terjadi perdebatan di sebuah milis (yang saya malas menimpali, karena satu dan lain hal) mengenai wajah kapitalisme Indonesia di zaman Soeharto (yang menurut saya masih berlangsung hingga kini, bahkan dalam tingkat keparahan yang lebih tinggi).</p>
<p>Satu pihak mengatakan bahwa premis kapitalisme yang dilahirkan oleh individualisme dan liberalisme tidak terpenuhi. Uang dan kekuasaan berada di tangan nyaris hanya satu pihak (Cendana dan cronies). Toh Indonesia bangkrut juga. Di sisi lain, masih kata orang yang sama, bukankah terapi neo-liberalisme yang ditawarkan oleh IMF, World Bank, CGI berusaha untuk memperbaiki keadaan.</p>
<p>Privatisasi, liberalisasi dan seterusnya itu, masih kata dia, mestinya dipandang sebagai antitesa untuk melawan pendekatan ekonomi dan politik Soeharto yang merugikan itu.</p>
<p>Tetapi ada baiknya saya tak berpanjang-panjang mengurai perdebatan ini.</p>
<p>Tahun 2002 lalu, saya sempat mengunjungi Nunukan. Kala itu, ribuan TKI dipulangkan secara paksa dari Malaysia (terutama yang bekerja di perkebunan sawit dan karet di negara bagian Sabah). Mendengar cerita mereka, geramlah hati saya pada banyak pihak yang memeras tenaga mereka, dan pada praktiknya menjual mereka untuk kepentingan sendiri.</p>
<p>Mereka bukan lagi diperkosa. Tetapi di “sum kuning”. Istilah ini ditujukan pada aktifitas memperkosa seseorang (ketika itu kebetulan korbannya wanita) secara beramai-ramai.</p>
<p>Sum Kuning adalah kisah nyata. Ia disebutkan sebagai seorang gadis penjual telur yang jelita dari Godean, Yogyakarta. Pada suatu hari di tahun 1970, Sum Kuning diperkosa beramai-ramai oleh anak seorang pejabat dan teman-temannya. Dia sempat disuap agar tak melaporkan pemerkosaan itu. Ketika ia mengadukan nasib sial yang diterimanya, para pelaku menyerang balik dan menuduh Sum Kuning memberi keterangan palsu. Sum Kuning yang malang itu pun dibawa ke pengadilan. Untunglah, sang hakim tak menjatuhkan hukuman pada Sum Kuning. Tahun 1978 kisah Sum Kuning diangkat ke layar lebar. Disutradarai Slamet Rahardjo Frank Rorimpandey dan dibintangi Yatty Surachman.</p>
<p>Ya, para TKI ini diperkosa beramai-ramai oleh pemerintah Indonesia berikut aparaturnya, pemerintah Malaysia berikut aparaturnya, PJTKI, rekanan PJTKI di Malaysia, pengusaha perkebunan di Malaysia, dan seterusnya. Ini adalah peristiwa sum kuning paling massif yang terjadi di muka bumi. Tidak di tempat gelap, tetapi di pertontonkan di atas panggung, dan kita semua bisa menyaksikannya. Gila.</p>
<p>Jalanan di depan dermaga Nunukan itu dipenuhi oleh TKI yang luntang lantung. Tidak tahu mau kemana. Mau pulang ke kampung halaman tak ada pekerjaan. Mau bertani, harga pupuk sudah melambung tinggi sementara harga jual gabah kering dan basah anjlok. Irigasi tak dibangun.</p>
<p>Kalau kembali ke rimba sawit di Sabah, ya mereka akan kembali dikerjai oleh banyak pihak sana. Pengusaha Malaysia menahan passport mereka, dan gaji mereka. Dan kalau mereka menuntut haknya, pengusaha Malaysia dengan gampang memanggil pasukan Rela dan mengatakan kepada pasukan Rela bahwa mereka adalah pekerja illegal.</p>
<p>Tak cukup makian mengalir dari mulut saya ketika itu untuk memperbaiki keadaan.</p>
<p>Tuhan, kita butuh lebih dari sekadar ganyang Malaysia. Maksud saya, jargon ganyang Malaysia pastilah tak akan cukup untuk menyelamatkan nasib mereka. Kita juga harus ganyang Indonesia!</p>
<p>Saya masih bisa makan di warung kaki lima di mulut dermaga. Warung ini berada agak ke bawah trotoar. Dari tempat saya duduk, yang tampak adalah ribuan pasang kaki orang-orang yang sungguh tak beruntung dalam hidupnya. Kalaulah bisa saya membagi keberuntungan saya selama ini kepada mereka…</p>
<p>Mereka mandi di got, sebagian tidur di rumah-rumah kosong. Ada juga yang nginap di kantor PJTKI yang berjejer di sepanjang Jalan Tien Suharto. Tak sedikit yang membawa anak-anak mereka. Ada yang katanya kehilangan anak ketika sedang terburu-buru meninggalkan Sabah. Ada yang menitipkan anak pada kerabat yang ada di sana.</p>
<p>Saya datang ke tempat penampungan mereka yang baru di bangun yang letaknya beberapa kilometer dari pusat Nunukan. Tak banyak yang mau tinggal di penampungan itu, karena mereka merasa lebih nyaman tinggal di pusat Nunukan yang dekat dengan kantor imigrasi.</p>
<p>See, mereka masih mau kembali ke Sabah.</p>
<p>Saya juga sempat ke Tawau, kota pelabuhan milik Malaysia di seberang sana. Dari Tawau saya pulang bersama 13 wanita muda yang semuanya mengaku terjebak bekerja sebagai pelacur di KK (Kota Kinabalu), ibukota Sabah. Seorang wanita yang saya wawancarai, dan keesokan harinya wawancara itu mengudara di Radio Ramako Jakarta, mengaku mesti melayani 10 laki-laki setiap hari.</p>
<p>Saya ditertawakan kawan di Jakarta, karena ketika bertanya tentang berapa laki-laki yang harus dilayani wanita itu, saya memulainya dengan kata-kata, “Maaf Mbak. Ini pertanyaan tidak sopan…”</p>
<p>Dan ada di antara mereka, yang paling muda dan paling bening dan karenanya paling diplototi orang di kantor polisi Nunukan itu, mengaku dulu mondok di pesantren sebelum direkrut “Sang Mami” jadi “Ayam”.</p>
<p>Begitulah sedikit gambaran keadaannya, mengapa saya sepakat bila kita ganyang Malaysia dan ganyang Indonesia Soeharto yang memusatkan pembangunan hanya di tangan sekelompok orang di Jawa, lalu memiskinkan daerah-daerah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
