Sedia Gempur Ataupun Sudah Digempur?

By jester2oberon

Kepada Rakyat Malaysia.

Dengan izin tuan-tuan dan puan-puan, saya ingin menceritakan suatu kisah yang melibatkan kedaulatan dan martabat negara. Satu kisah yang disembunyikan dari Rakyat kerana kebaculan dan kedayusan barisan kepimpinan negara di Perdana Sari dan kuncu-kuncu mereka yang sewaktu dengannya. Kisah ini bermula dengan Kerajaan Malaysia menganugerahkan kontrak carigali kepada syarikat Royal Dutch/Shell dan Petronas Carigali Sdn Bhd di Selat Ambalat. Kontrak tersebut menyatakan kawasan explorasi dan carigali sebagai Blok ND6 dan ND7.

Dibawah, saya mengemukakan petikan dari satu laman web Kerajaan Malaysia.

http://www.mima.gov.my/mima/htmls/papers/pdf/mokhzani/cyber-ambalat.pdf

“The diplomatic tension began to rise on 16 February 2005 when Petronas, Malaysia’s national oil company awarded production sharing contracts to Anglo-Dutch giant Royal Dutch/Shell and Petronas Carigali Sdn Bhd – Petronas’ exploration and production arm for the ultra-deepwater blocks off the east coast of Malaysia’s Sabah state. The blocks, which Malaysia has termed Blocks ND6 and ND7, are partially situated in Indonesia’s claimed area which is referred to by Jakarta as Ambalat and East Ambalat.”

Pada masa yang sama, Kerajaan Indonesia menghantar tujuh kapal perang dan pejuang F-16 mereka untuk mencabar kedaulatan negara. Akibat dari tindakan Kerajaan Indonesia yang tidak menghormati batas sempadan negara kita, maka nahas tidak berbau berlaku. Kapal Republik Indonesia, KRI Tedung Naga, dikatakan oleh Indonesia telah berlanggar dengan Kapal TLDM, KD Rencong. Petikan berkenaan isu tersebut saya kemukakan di sini untuk rujukan.

http://www.indonesia-ottawa.org/information/details.php?type=news_copy&id=790

“According to the Indonesian Navy, the left side of the Indonesian ship’s hull was damaged while the Malaysian ship’s front was also damaged. The navy claimed its ship was hit by the Malaysians. “The incident occurred when our ship was patrolling off the Karang Unaran coast off East Kalimantan and tried to drive the Malaysian vessel out of our maritime territory,” Slamet said.”

Lanjutan dari insiden tersebut, Indonesia dengan riaknya menyatakan bahawa Kerajaan Malaysia TELAH MEMINTA MAAF kepada Kerajaan Indonesia! Hairan Bin Ajaib. Mengapa pula begitu? Jelas kepada Rakyat bahawa Selat Ambalat adalah perairan Malaysia secara sah dari segi Perundangan Antarabangsa. Mengapa pula kita terpaksa meminta maaf kepada Kerajaan Indonesia apabila jelas nyata KRI Tedung Naga memasuki kawasan perairan negara TANPA KEBENARAN. Jadi pertama ialah siapakah yang meminta maaf? Menteri Pertahanan? Menteri Luar Negeri? Pernah saya terbaca petikan dari suratkhabar pada tahun 2005 di mana seorang Menteri yang dikatakan suka bersantap di Paris menjelaskan bahawa beliau tidak pernah menganjurkan perkataan MAAF sama sekali. Akan tetapi, ANTARA, agensi berita Indonesia, masih memaparkan perkara ini di laman situs mereka sehingga sekarang. Persoalan kedua pula ialah, jikalau benar apa yang dikatakan oleh Menteri ini, mengapa pula tiada tindakan undang-undang dilaksanakan ke atas ANTARA kerana menerbitkan berita palsu?

http://portal.antara.co.id/en/arc/2007/3/29/malaysia-admits- mistakes-by-offering-apology-over-ambalat/

“Malaysia`s apology over incursions by its naval boats into Indonesian waters indicates that the neighboring country has admitted it was mistaken in making provocative moves in the Ambalat region, a legislator said. “As a civilized nation, we have to appreciate Malaysia`s willingness to offer an apology,” Andreas H Pareira, a House of Representatives (DPR) member representing the Indonesian Democratic Party-Struggle (PDI-P), said here Wednesday. Indonesian Defense Minister Juwono Sudarsono said here on Wednesday that Malaysia had offered an apology to Indonesia for intrusions committed by its naval boats into Ambalat waters last February 24 and 25.”

“As a civilized nation?” Apa maksud Bapak Andreas apabila menutur kata-kata tersebut? Rakyat Malaysia gasar? Kerajaan Malaysia gasar? Ataupun kedua-duanya sekali? Sekiranya tuan-tuan dan puan-puan tidak mengerti akan pepatah, “Menconteng arang ke muka”, saya rasa Bapak Andreas telah menunjukkan satu contoh di mana pepatah tersebut sememangnya terpakai ke atas Maruah Rakyat dan Negara Malaysia.

Jangan kita pula bermimpi di siang hari iaitu wujudnya satu perhubungan intim yang dikatakan Abang-Adik antara negara Malaysia dan Indonesia yang sememangnya dongeng indah yang dipasarkan oleh barisan kepimpinan kita melalui media-media tertentu yang sepatutnya diberi nama Utusan Dayus dan Bacul Harian. Kebobrokan Rakyat Malaysia dalam memahami implikasi insiden di Selat Ambalat hanya akan memudaratkan keupayaan kita dalam menegakkan kedaulatan negara; sama ada di Pulau Batu Puteh dengan Singapura maupun Terumbu Layang-Layang dengan Republik Rakyat Cina.

Pohon izin saya mengemukakan petikan komentar dari sebuah blog di Indonesia. Nampaknya bukan main bersemangat lagi rakyat Indonesia ingin mempertikaikan hak Malaysia ke atas perairan Selat Ambalat.

http://priyadi.net/archives/2005/03/09/sengketa-perairan-ambalat/

KOMEN NO 1

“Ambalat Belongs To Indonesia! Ganyang Malaysia!”

KOMEN NO 2

“Malaysia ngembat Ambalat elo Kualat!!!!

Lagi TKI Indonesia diperkosa dan dianiaya majikan di Malaysia!!!! TKI diperkosa dan dianiaya!!!!

Malaysia manggil bangsa kita INDON!!!!! Liat aja di koran2 Malesy kita dibilang INDON(s). Sampe dibilang presiden INDON… Negara mana tuh INDON???? Ada yang tau gak? Kekekeke…

Kita manggil bangsa mereka aja gak disingkat2 Apa mau kita panggil Hei bangsa Malesy…. kau bangsa peMALESY, PENINDAS, LICIK, PENGHISAP DARAH!!!!

Elo kagak mikir kalo keluarga encik2 diperlakuin seperti binatang, diperkosa, dicambuk??? Kenapa tidak orang Melayu saja yang jadi buruh kerja di tempat kotor membangun BUILDING??? MEmang peMALESY”

KOMEN NO 3

“Disini berita Ambalat ditutup-tutupi. Potong sana potong sini. Banyak orang Malaysia yang tidak tahu soal krisis Ambalat. Harusnya mereka sadar Indonesia itu bangsa yang gigih merebut dan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya diberikan. Maju tak gentar!”

Betapa kerdilnya kita. Betapa aibnya kita. Semasa rakyat Indonesia bersemangat berkobar-kobar, Rakyat Malaysia sendiri pula dikasi oleh barisan kepimpinan di Perdana Sari. Semangat perjuangan rakyat Malaysia telah dipadam sebelum dinyalakan.

Persoalan-persoalan ini perlu dijawab dengan telus oleh barisan kepimpinan kita di Perdana Sari, dan khasnya Menteri Pertahanan kita, Najib Anak Razak, dan Menteri Luar Syed Hamid Anak Syed Albar.

1. Diminta Kementerian Pertahanan menerangkan apakah langkah-langkah yang telah diambil untuk memastikan perairan Selat Ambalat selamat dari dicerobohi oleh kuasa-kuasa asing?

2. Adakah Kementerian Luar Negeri membuka perbincangan dengan Kerajaan Indonesia dengan mengusulkan agar pertikaian tersebut dikemukakan di Makhamah Keadilan Antarabangsa (ICJ)?

3. Sekiranya berlaku sekali lagi pencabulan keatas perairan Selat Ambalat, adakah Kementerian Pertahanan telah mengambil langkah untuk memastikan bahawa Angkatan Tentera Malaysia mampu menangkis dan memusnahkan sebarang tentangan?

4. Dan akhir sekali, diminta Menteri Pertahanan dan Menteri Luar menjelaskan sekali lagi sama ada benar atau tidak berita yang dipetik dari ANTARA yang menyatakan bahawa Malaysia “meminta maaf” terhadap insiden tersebut?

Sebelum saya menamatkan artikel ini, izinkan saya untuk kali terakhir untuk mengemukakan petikan dari sebuah laman situs Indonesia untuk renungan kita…

“Pada saat kondisi yang amat kontras, Malaysia berhasil melakukan beberapa “uji coba” memperdaya Indonesia. Mereka mencoba RI dengan mengusik para TKI ilegal…“Uji coba” yang paling sukses adalah klaim Pulau Sipadan dan Ligitan yang diajukan ke Mahkamah Internasional. Sebaliknya, Indonesia “mati kutu” tak bisa berkutik dalam kasus ini.

Klaim Malaysia atas Selat Ambalat yang terletak di dekat Pulau Sebatik, Kalimantan Timur, merupakan “uji coba” berikutnya untuk melanjutkan “kesuksesan” sebelumnya. “Kemenangan-kemenangan” Malaysia yang begitu mudah menjadikan Malaysia semakin percaya diri. Tapi kali ini Malaysia berhadapan dengan Presiden RI yang jenderal…

Tapi meski ghirah ini meningkat, ada juga rasa waswas. Mengingat, Malaysia tentu saja bukanlah negeri yang tanpa perhitungan selama berani mengklaim Selat Ambalat itu. Apalagi, Indonesia sejak masa reformasi ini dapat dikatakan “telanjang bulat”. Setelah diembargo senjata oleh Amerika Serikat dan ketika menghadapi bencana tsunami di Aceh kelihatan tak berdaya. Jangan-jangan semua sudah diperhitungkan. Maka, tetaplah waspada, dan pertahankanlah Selat Ambalat.”

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0305/07/02.htm

Tidakkah kepentingan dan kedaulatan negara mengatasi perkiraan perhubungan “Abang Adik”?

One Response to “Sedia Gempur Ataupun Sudah Digempur?”

  1. Oh Indon Oh Malaysian Says:

    Ketika memperingati Hari Buruh 1 Mei 1965, BK berkata:

    SAUDARA-SAUDARA, kita mengatakan bahwa Malaysia adalah proyek neo-kolonialis. Aku berkata, Malaysia adalah suatu proyek neokolonialis, dan aku berkata, Malaysia adalah juga suatu proyek imperialis.

    Neo-kolonialis karena Inggris mengkonsolir, menjajah Malaysia itu, atau lebih tegasnya Malaya, Singapore, Brunei, Serawak, Sabah dengan cara-cara baru, dengan cara neo—neo itu artinya baru—bukan dengan cara terang-terangan seperti dulu Belanda disini mengatakan bahwa Hindia adalah Hindia-Nederland, mengatakan bahwa semua pemerintahan disini, di Indonesia ini, adalah di dalam tangan negeri Belanda.

    Tidak, Inggris mengatakan bahwa Malaya, Singapore, Sabah, Brunei ini, oo, untuk mereka sendiri. Pemerintahannya dalam bentuk baru. Tetapi pada hakikatnya masih Inggris yang memegang tampuk pemerintahannya, oleh karena itu dinamakan neo-kolonialisme baru, bukan kolonialisme biasa.

    Hari ini konteksnya jauh berbeda. Indonesia kini juga bukan Indonesia yang disuarakan BK ketika itu.

    (Saya minggu lalu menyelesaikan tugas midterm untuk POLS 600, tentang nasionalisme Orde Baru dan nasionalisme Sukarno, juga kritik atas nasionalisme seperti yang disampaikan Ben, dan pemikiran nasionalisme oleh sejarawan Yahudi Hans Kohn. Setelah kurang tidur selama berhari-hari, akhirnya selesai dalam 13 halaman, satu spasi. Sempat ada niat juga mengirimkannya ke Ibu Mira. Tapi nanti-nantilah.)

    Tengah terjadi perdebatan di sebuah milis (yang saya malas menimpali, karena satu dan lain hal) mengenai wajah kapitalisme Indonesia di zaman Soeharto (yang menurut saya masih berlangsung hingga kini, bahkan dalam tingkat keparahan yang lebih tinggi).

    Satu pihak mengatakan bahwa premis kapitalisme yang dilahirkan oleh individualisme dan liberalisme tidak terpenuhi. Uang dan kekuasaan berada di tangan nyaris hanya satu pihak (Cendana dan cronies). Toh Indonesia bangkrut juga. Di sisi lain, masih kata orang yang sama, bukankah terapi neo-liberalisme yang ditawarkan oleh IMF, World Bank, CGI berusaha untuk memperbaiki keadaan.

    Privatisasi, liberalisasi dan seterusnya itu, masih kata dia, mestinya dipandang sebagai antitesa untuk melawan pendekatan ekonomi dan politik Soeharto yang merugikan itu.

    Tetapi ada baiknya saya tak berpanjang-panjang mengurai perdebatan ini.

    Tahun 2002 lalu, saya sempat mengunjungi Nunukan. Kala itu, ribuan TKI dipulangkan secara paksa dari Malaysia (terutama yang bekerja di perkebunan sawit dan karet di negara bagian Sabah). Mendengar cerita mereka, geramlah hati saya pada banyak pihak yang memeras tenaga mereka, dan pada praktiknya menjual mereka untuk kepentingan sendiri.

    Mereka bukan lagi diperkosa. Tetapi di “sum kuning”. Istilah ini ditujukan pada aktifitas memperkosa seseorang (ketika itu kebetulan korbannya wanita) secara beramai-ramai.

    Sum Kuning adalah kisah nyata. Ia disebutkan sebagai seorang gadis penjual telur yang jelita dari Godean, Yogyakarta. Pada suatu hari di tahun 1970, Sum Kuning diperkosa beramai-ramai oleh anak seorang pejabat dan teman-temannya. Dia sempat disuap agar tak melaporkan pemerkosaan itu. Ketika ia mengadukan nasib sial yang diterimanya, para pelaku menyerang balik dan menuduh Sum Kuning memberi keterangan palsu. Sum Kuning yang malang itu pun dibawa ke pengadilan. Untunglah, sang hakim tak menjatuhkan hukuman pada Sum Kuning. Tahun 1978 kisah Sum Kuning diangkat ke layar lebar. Disutradarai Slamet Rahardjo Frank Rorimpandey dan dibintangi Yatty Surachman.

    Ya, para TKI ini diperkosa beramai-ramai oleh pemerintah Indonesia berikut aparaturnya, pemerintah Malaysia berikut aparaturnya, PJTKI, rekanan PJTKI di Malaysia, pengusaha perkebunan di Malaysia, dan seterusnya. Ini adalah peristiwa sum kuning paling massif yang terjadi di muka bumi. Tidak di tempat gelap, tetapi di pertontonkan di atas panggung, dan kita semua bisa menyaksikannya. Gila.

    Jalanan di depan dermaga Nunukan itu dipenuhi oleh TKI yang luntang lantung. Tidak tahu mau kemana. Mau pulang ke kampung halaman tak ada pekerjaan. Mau bertani, harga pupuk sudah melambung tinggi sementara harga jual gabah kering dan basah anjlok. Irigasi tak dibangun.

    Kalau kembali ke rimba sawit di Sabah, ya mereka akan kembali dikerjai oleh banyak pihak sana. Pengusaha Malaysia menahan passport mereka, dan gaji mereka. Dan kalau mereka menuntut haknya, pengusaha Malaysia dengan gampang memanggil pasukan Rela dan mengatakan kepada pasukan Rela bahwa mereka adalah pekerja illegal.

    Tak cukup makian mengalir dari mulut saya ketika itu untuk memperbaiki keadaan.

    Tuhan, kita butuh lebih dari sekadar ganyang Malaysia. Maksud saya, jargon ganyang Malaysia pastilah tak akan cukup untuk menyelamatkan nasib mereka. Kita juga harus ganyang Indonesia!

    Saya masih bisa makan di warung kaki lima di mulut dermaga. Warung ini berada agak ke bawah trotoar. Dari tempat saya duduk, yang tampak adalah ribuan pasang kaki orang-orang yang sungguh tak beruntung dalam hidupnya. Kalaulah bisa saya membagi keberuntungan saya selama ini kepada mereka…

    Mereka mandi di got, sebagian tidur di rumah-rumah kosong. Ada juga yang nginap di kantor PJTKI yang berjejer di sepanjang Jalan Tien Suharto. Tak sedikit yang membawa anak-anak mereka. Ada yang katanya kehilangan anak ketika sedang terburu-buru meninggalkan Sabah. Ada yang menitipkan anak pada kerabat yang ada di sana.

    Saya datang ke tempat penampungan mereka yang baru di bangun yang letaknya beberapa kilometer dari pusat Nunukan. Tak banyak yang mau tinggal di penampungan itu, karena mereka merasa lebih nyaman tinggal di pusat Nunukan yang dekat dengan kantor imigrasi.

    See, mereka masih mau kembali ke Sabah.

    Saya juga sempat ke Tawau, kota pelabuhan milik Malaysia di seberang sana. Dari Tawau saya pulang bersama 13 wanita muda yang semuanya mengaku terjebak bekerja sebagai pelacur di KK (Kota Kinabalu), ibukota Sabah. Seorang wanita yang saya wawancarai, dan keesokan harinya wawancara itu mengudara di Radio Ramako Jakarta, mengaku mesti melayani 10 laki-laki setiap hari.

    Saya ditertawakan kawan di Jakarta, karena ketika bertanya tentang berapa laki-laki yang harus dilayani wanita itu, saya memulainya dengan kata-kata, “Maaf Mbak. Ini pertanyaan tidak sopan…”

    Dan ada di antara mereka, yang paling muda dan paling bening dan karenanya paling diplototi orang di kantor polisi Nunukan itu, mengaku dulu mondok di pesantren sebelum direkrut “Sang Mami” jadi “Ayam”.

    Begitulah sedikit gambaran keadaannya, mengapa saya sepakat bila kita ganyang Malaysia dan ganyang Indonesia Soeharto yang memusatkan pembangunan hanya di tangan sekelompok orang di Jawa, lalu memiskinkan daerah-daerah.

Leave a Reply